Aku masih menangis sendiri di dalam hati.

23 Nov 2012

Aku masih mimpi buruk, pada malam Kamis ketiga setiap bulannya.
Aku masih menutup mata, tiap melewati tikungan di jalan itu.
Aku masih gugup, tiap mendengar ponselku berdering.
Aku masih tidak yakin, masih menerka-nerka.

Anomali

6 Nov 2012

Saya pernah melihat cinta yang memudar dari hari ke hari. Saya bahkan sangsi apakah cinta itu memang ada dari sejak awal. Ibu saya pernah mengatakan bahwa sang wanita dalam hubungan yang sedang saya ceritakan ini tidak pernah jatuh cinta. Ibu saya pernah bilang "Menikahlah dengan lelaki yang mengejarmu; jangan menikah dengan lelaki yang kau kejar. Cintanya harus jauh lebih besar dari cintamu. Sebab seorang wanita bisa mencintai karena terbiasa, tapi sekalinya lelaki jatuh cinta, dia tidak akan berhenti mencintai." Tapi pada kenyataannya saya bisa melihat cinta memudar dari hari ke hari. Jika apa yang Ibu saya katakan benar adanya (bahwa sang wanita tidak pernah jatuh cinta), maka cinta sang lelakilah yang memudar.

Saya takut. Saya takut sekali.

Saya juga pernah melihat seorang wanita jatuh cinta begitu hebatnya hingga dia rela dijadikan istri kedua. Lalu kemudian dia rela suaminya memiliki yang ketiga. Sepanjang hidupnya, sang suami sering melakukan kekerasan fisik, tapi wanita itu bertahan. Bahkan setelah suaminya meninggal bertahun-tahun yang lalu, selalu ada cinta di mata wanita itu tiap kali dia menceritakan sesuatu tentang mendiang suaminya.

Saya takut. Saya takut sekali.

Saya pernah menaruh harapan yang sangat besar akan sesuatu. Saya memupuk harapan itu. Saya menyiraminya dengan berjuta-juta doa. Kemudian sesuatu terjadi dan harapan itu ternyata hampa belaka. Kemudian saya berhenti berharap. Saya berhenti percaya. Saya bahkan berhenti berdoa.

Saya takut. Saya takut sekali.

Menularkan Galau (7)

2 Nov 2012

Kalo kamu kenal cewek ini:


atau ini:


kemungkinan besar kamu gak akan kenal cewek ini:


Karna cewek di foto 1 dan foto 2 itu:

  • tegas
  • straight to the point
  • very short tempered
Sedangkan cewek di foto terakhir itu:
  • plin plan
  • sibuk ngomong sendiri dalam hati
  • overthinking dan overanalysing
  • kalo marah/gak suka jarang bilang langsung

I Owe You a Fall #5

15 Okt 2012

And even if I know you would never love me
with all your heart
I will love you sincerely
like I do from the very start

Skenario

12 Okt 2012


Molly sangat menyukai saat-saat seperti ini, ketika ia mengemudi sendirian. Radionya menyala tapi dengan volume yang sangat rendah. DI saat-saat seperti inilah ia bisa berpikir dengan tenang. Ia bisa memikirkan apa saja yang akan ia lakukan, atau katakan.

Semalam dan tadi pagi ketika mandi, ia sudah tahu apa saja yang harus ia katakan pada John ketika mereka bertemu hari ini. Ia akan mengakhiri semuanya hari ini. Hari ini akan menjadi hari terakhir ia menjadi pilihan kedua. Pertemuan dengan John hari ini akan menjadi yang terakhir.

Molly menginjak rem ketika mobilnya sampai di pelataran parkir kafe tempat ia berjanji untuk bertemu dengan John. Tapi Molly tidak langsung turun. Ia hanya mematikan mesin mobilnya dan duduk di belakang kemudi tanpa melepas sabuk pengaman.

Ia menutup matanya dan membayangkan skenario yang sudah ia rancang. Ia dan John akan duduk di meja 18 seperti biasanya. John akan duduk menghadap jendela sementara Molly duduk di seberangnya, membelakangi jendela. John akan memesan latte dan Molly akan memesan cappuccino. Mata John yang tajam akan memandangnya dengan penuh cinta, jenis tatapan yang selalu berhasil mencuri hati Molly. Tapi kali ini Molly akan berusaha untuk tidak memandang kedua mata itu terlalu dalam.

Lalu Molly akan membiarkan John menceritakan apa saja yang terjadi dalam hidupnya selama seminggu semenjak terakhir kali mereka bertemu. John akan menceritakan semua yang ia alami, kecuali saat-saat yang ia bagi bersama Molly: seminggu yang lalu di kafe ini, di bioskop, dan di apartemen Molly.

John akan menceritakan semua yang ia alami ketika Molly tidak ada di sampingnya. Semuanya. Kecuali satu hal.

John akan melihat-lihat isi ponsel Molly secara lalu tanpa banyak bertanya mengenai apa saja yang ia lihat di dalamnya. Tapi John akan menyimpan ponselnya sendiri di dalam saku dan tidak mengeluarkannya kecuali sesekali saja untuk membalas pesan singkat yang tidak bisa dia abaikan walau Molly sedang bicara dengannya sekalipun.

Dan Molly akan tertawa karena lelucon yang dilontarkan John. Molly akan tersenyum. Molly akan mendengarkan suara John dan ia akan mempercayai semua yang dikatakan John tanpa kecuali. Molly akan membiarkan cappuccino-nya dingin dan tidak habis.

Tapi kali ini Molly akan melakukan sesuatu yang tak pernah ia lakukan. Ia akan memotong ucapan John. Molly akan membuka mulutnya dan berbicara singkat tapi langsung ke intinya.

John, Molly akan berkata. Aku tak bisa seperti ini lagi. Aku tak bisa lagi bersembunyi. Aku mencintaimu. Dan jika kau juga mencintaiku, seperti yang selalu kau katakan selama ini, kau harus memilihku dan meninggalkannya. Jika kau mau memperjuangkanku, lakukan itu sekarang. Aku tak mau lagi menunggu dalam ketidakmenentuan.

Lalu Molly akan pergi kembali ke mobilnya dan pergi menjauh dari kafe itu. Dari distrik itu. Dari kota itu. Molly akan terus memacu mobilnya entah ke mana sambil mendengarkan radio dengan volume rendah. Ia tak akan kembali ke apartemennya sebelum gelap.

Molly membuka matanya dan mengangguk mantap. Ia melepas sabuk pengaman dan keluar dari mobil. Dikuncinya pintu mobil lalu ia berjalan masuk ke kafe.

Meja 18 sudah ada yang mengisi. John. Dengan kemeja garis-garis dan rambut pirangnya yang selalu rapi. Ia sedang sibuk dengan ponselnya ketika Molly datang dan langsung duduk di hadapannya.

“Sayangku,” sapa John sambil tersenyum.

Lalu Molly memandang kedua matanya yang tajam. Salah besar.

Menularkan Galau (6)

21 Sep 2012

Saya sudah tidak ingat kapan terakhir kali saya berlari pulang sambil menangis. SD, sepertinya. Entah sejak kapan di rumah saya ada semacam peraturan tidak tertulis bagi saya untuk tidak menunjukkan emosi: sedih, marah, kecewa. Saya tidak boleh mengeluarkan air mata di rumah. Bagi orang tua saya, mata yang bengkak dan sembab akibat menangis semalaman adalah aib. Mungkin maksud mereka baik: kadang menangis memang bukan jalan keluar yang baik.

Tapi karena alasan itulah saya selalu merasa bahwa my house is not my home.

An Afternoon Conversation

30 Agt 2012


Sarah looked at me. "You can't do that, you know?"

I could catch a glimpse of worry in her eyes. Of course she knew that I had all the strength and reason to do it. She tried to stop me even though she knew that I was stubborn. If I wanted to do something, I would certainly do it.

"She doesn't know, does she?" I said. "She looks fine. What if I told her now? What if I gave her proofs? Would she believe me? Or would she say that I'm a liar?"

"Don't," she desperately said.

"I really want to see what he would do if I did that."

Sarah sighed and looked away. She almost gave up on me. My best friend was going to give up on me too.

"If I would, I could. You know that," I said.

She looked at me again. "But you wouldn't."

I sighed. "I won't. They'll get married in the next few years but he will still be in love with me. I think that kind of punishment should be enough. He'll carry the regrets all his life."

"And what about you? Will you carry it all your life too?"

I stared at my tea cup for a little while. "I don't know. I don't believe in the future anymore. Whatever life will get me, I'll face it. I should face it, shouldn't I?"

She smiled. "You're strong, my dear. And you'll surely find someone new, someone better."

I chuckled. "Oh Sarah darling. You do know that I don't believe in that fairy tale anymore. Two people gave up on me in a span of three months and that's the worst thing I could ask for. I dare not to dream anymore."

Sarah didn't try to argue back.

"I love him, Sarah. If I should cry and beg and plead, I would totally do that. But that wouldn't change a thing. I couldn't change a thing if he himself wouldn't do anything. I couldn't change him."

She gave me that look again. "If you want to cry, just cry. Don't hold back the tears. It helps a lot. It takes away a little bit of the pain."

I smiled. "I will."

Menularkan Galau (3)

6 Agt 2012

Dalam setiap kompetisi, ada yang kalah dan ada yang menang. Hidup ini sebenarnya sebuah kompetisi besar tentang siapa yang bisa lebih unggul dari yang lainnya dalam berbagai hal: sperma mana yang duluan sampai di sel telur, siapa saja yang diterima di sekolah favorit, siapa saja yang lolos SNMPTN dan tes CPNS, karyawan yang mana yang dapat promosi, capres mana yang berhasil menang pemilu, manusia mana yang bisa masuk surga, dan lain sebagainya.

Juri kompetisi tidak selalu adil. Kadang ada saja yang berat sebelah. Kadang ada saja yang memihak kelompok tertentu. Kadang pula, walaupun jarang terjadi, ada yang tidak bisa menentukan pemenang sama sekali.

Tapi dalam setiap kompetisi harus ada yang kalah dan ada yang menang.

Mengalah untuk kalah bukan sifat saya. Jika saya merasa pantas menang, saya akan bersikukuh untuk menang. Tapi di sini, di titik ini, ketika semua rasa bersalah dan penyesalan semakin menyesakkan dada, mengalah mungkin satu-satunya cara.

Tidak. Ini bukan mengalah. Ini menyerah kalah.

Saya menyerah.

Saya saja yang kalah.

15 Hal yang Saya Pelajari dari KKN Sejauh Ini

25 Jul 2012


1) Bandung-Garut itu deket, andai jalan Leunyi-Ekek-Calengka gak sepanjang itu.
2) Homesick gak akan bisa diilangin dengan cara pulang. No.
3) Gak betah itu gak selalu berkaitan sama homesick.
4) Jangan mau diperdaya warga. Jangan takut untuk bilang "Tidak!"
5) Antara cowok-cewek yang tinggal seatap selama beberapa minggu pasti bakal muncul chemistry, tapi gak selalu CINTA.
6) Karna hal tersebut di atas, jangan gampang geer sama perhatian yang dikasih sama temen sekelompok.
7) Jadi antisosial, pasif, dan apatis itu ada untungnya. Kesempatan untuk dikeceng sama pemuda setempat jadi lebih kecil.
8) Trust me. Dikeceng pemuda setempat itu gak enak banget. Mau ngejutekin (kayak kalo dikecengin orang kota) bisi diapa-apain, dicegat di jalan atau naon lah... Mau nanggepin, bisi dikira ngasih harapan.
9) Jangan percaya sama omongan orang "Jangan menghitung hari, nanti makin kerasa lamanya." If you think it can help, just do it.
10) Mandi air dingin (mendekati titik beku) bisa bikin jerawat berkurang. Eh teuing ketang...
11) It's okay to escape. Bilangnya mau ke downtown Garut, taunya ke Bandung. Hahaaa...
12) Jujur itu bagus. Tapi harus liat sikon juga sih.
13) Just don't do what you don't want to do.
14) Jangan, jangan, JANGAN ngomongin temen sekelompok yang ganteng pas dia lagi tidur di ruangan yang sama ama kamu. MUNGKIN dia sebenernya belum tidur dan masih smsan. MUNGKIN dia bisa denger SEMUA yang kamu omongin.
15) Dan kalo kamu udah ketauan ngomongin dia, JANGAN diulang walau dalam kamar mandi sekalipun. MUNGKIN dia lagi duduk depan kamar mandi. MUNGKIN dia bisa denger SEMUA yang kamu omongin.

Laut

21 Jun 2012

"Apa?" Ia memandangku. "Barusan kamu bilang apa?"

"Aku suka matahari terbenam," jawabku.

"Kenapa?"

"Gak tau. Rasanya bikin hati tentram aja. Tiap ngeliat matahari terbenam, aku selalu ngerasa rindu sama sesuatu. Tapi aku sendiri gak tau sesuatu itu apa."

Ia tidak menjawab tapi matanya mengikuti arah pandangku. Jauh menuju langit barat, seolah-olah berusaha memahami teoriku barusan.

"Matahari terbenam itu indah, tapi cuma sebentar," katanya. "Menandakan kalo yang indah-indah itu sifatnya cuma sementara."

i owe you a fall #4

15 Mei 2012

Say, why don't we go to a place
where nobody knows us?
We can pretend like we are together;
like I'm your mrs and you're my mr.
We can wear fake rings
and call each other darling.
And I will never let go off your hand
as if the world is going to end.

the leaky boat

9 Mei 2012

Strangely, I had a good sleep last night. I dremt of a garden under the moonlight and us gazing at the starry sky. It was cold but your hands holding mine were warm. It felt real, as if you were there next to me. As if we were like we used to be.

However, I don't know why I woke up early and ended that sweet dream so soon. I went into the bathroom at five to six and enjoyed the warm water far too much. It was almost seven when I came out of the shower. Staying under the warm shower was a big mistake because the AC in this hotel room made me frozen right away.

I had driven for a hundred miles to come to this town, but somehow I'm not tired. Maybe after all these years my nerves, my heart, have finally lost their sense of this kind of pain. Or maybe I've just learnt to love and enjoy it. Years have passed since that moment when you drew a heart with a red sharpie on my palm. Years have passed since the first time we told each other those three words; the first of many times. And years, too, have I tried to understand my position. When you love someone, you've got to be ready for all the risks. And by loving you, I've got to be ready that someday I have to let you go. And that day, honey, has finally came.

I put on my make up, putting more attention to my eyes because I know you like it. I put on eyeliner. I curl my eyelashes and add some mascara. I put on light brown eye shadow that matches my brown kebaya. I stylised my veil and put a golden brooch on my chest. I smile at the mirror and I look good. Even though I know that no matter how hard I try to look pretty, I will never be prettier than your bride. This is her day and she will be queen today. She's getting married to a good man.

I spray my perfume all over my head and body. Now I'm good to go.

There's only one more thing, however. One more crucial thing that I have to be sure of. I need to know if I'm really okay; if it's okay for me to see you getting married to her. You know me; I can break down at any time. It will not be a good sight for your guests. I'm not ashamed of crying in front of strangers, but it's your day. I can't ruin your day, like I've ruined your life these past years.

Why would you even invite me? Why would I even be willing to come? Inhibitions aren't really our thing and we're already used to being straightforward to each other. You know very well that it may break my heart to see you in your big day and I know very well that I may ruin everything. But you still invite me and here I am in a hotel room right above the big hall where you're going to marry her, ready to attend that event. Where's the sense in that?

And so I decide this is how our story will end (not that there is such thing as our story): not by me running down the aisle to interrupt the vow, but by me walking away from this place, out to the parking lot, taking all my stuffs, and driving a hundred miles back to where the city lights can distract me from thinking of you.

And here's for you: remember when I told you about my boat? Well, it still keeps sinking. I'm still sinking but it's okay. I can swim.

i owe you a fall #3

27 Apr 2012

Dance with me
Under the rain
Next to the lake
Out in the wood
Take my hand
Never let it go
Tell me you love me
Stop the time
Be with me
Be mine
Be only mine

tentang fiksi

1 Apr 2012

Bagi saya, penulis/pengarang/penyair/pujangga (you name it) adalah seseorang yang berkuasa. Mereka mencomot, mengambil, merampas apa-apa yang ada di dunia nyata dan memasukkannya ke dalam dunia yang mereka ciptakan sendiri. Kejadian-kejadian di dunia nyata, nama-nama orang yang mereka kenal, lagu-lagu, cuaca, dan semua itu kemudian mereka campurkan. Diaduk. Dibalik-balik. Diberi bumbu. Lalu dibentuk sedemikian rupa menjadi sesuatu yang bercerita. Semua yang kalian baca hanya fiksi belaka.

Namun demikian, fiksi bukan berarti tidak nyata. Selamat tersesat di dunia yang saya ciptakan.

lyrics from the hill (1)

28 Mar 2012

Be still, my heart,
for things aren't really like
the way you think
they are.

Be still, my heart,
for insecurities are
eating up your heart
and thought.

Be still, my heart,
for everything will be,
oh yes they all will
be okay.

fairy tales (1)

27 Mar 2012

Perhaps for you life is just about wandering around
hopping from one cafe to another
looking for a nice cup of coffee
or cheesy tasty meal
but really all you want to have is the solitude.
You love the sound of the rain
the smell of the wet grass
and for you being alone is not always lonely.
Like being needy is not always greedy.
You just love what you want to love
and hate what you want to hate.
You judge people based on the state of their shoes
not their facial expressions.
You believe that all supervillains deserve their happy endings
and that Cinderella should stop being such a whiny bitch.

But sometimes you forget that life isn't all about you.
One day, perhaps, you will be the one who is serving the coffee
or the cheesy tasty meal.
Solitude betrays you and you have to deal with these people.
The drought will come
and the grass is all dying.
And for once in your life, you are lonelier than being alone.
You're needy because you're greedy.
What if nobody loves you
and everyone hates you?
What if people stop wearing shoes
and you have to finally look at their faces?
Happy endings are bullshit
and you are Cinderella, whining and bitching.

i owe you a fall #2

24 Mar 2012

Do you not sometimes wish we don't have to care about how the universe works?
Perhaps it would be less confusing, less complicated, if we didn't think too much.
Perhaps it would be so much easier for both of us.
Perhaps it would be better.

a four-page-long love letter

16 Mar 2012

The distant view of the sun setting in the west outside my bedroom window always succesfully makes me think of you.
Seasons have changed; the darkness falls.
Nothing stays, but this feeling remains.
Last night, just like any other night, I stared at the four walls
And think of the unfinished plate of fried rice;
the cold tea
and how much I like your voice.
----------------------------


Dusk and Summer by Dashboard Confessional on Grooveshark


"And she looked deep into you as you lay together, quiet in the grasp of dusk and summer."

sesaat di selat sunda

4 Mar 2012

Angin yang berhembus kencang beku di hadapanmu
Sorot matamu beradu dengan matahari, yang kemudian mengaku kalah dan pergi
menghilang dari kaki langit
Suatu hari nanti, barangkali
Kita menuju satu tujuan
Hati kita menuruti satu haluan
Tapi kali ini saja
Biarlah kita menuju tempat yang berbeda
Biarlah hati kita tertaut pada hal yang berbeda

Sebab suatu hari nanti, barangkali

i'm good to go

3 Mar 2012

She adjusted her seat and looked out the window. It was sunny. She sighed and looked away from the pretty view. Oh how she wanted to jump off the plane before it was too late; before it set off and left this place. She wanted to go back to the terminal and stopped him from walking away.

She wanted to hold his hands and said what she had wanted to say since a long, long time ago.

She remembered what he said back at the terminal when she said good bye.

"So... You really have to go."

It wasn't a question. And she nodded. "Yes." And we may never have another chance to see each other like this, ever again.

Once again, she said good bye and he let her go. To her disappointment. She was hoping he would stop her. She was hoping she would take her hands and begged, pleaded, for her to stay. At least for one more day.

But he just stood there and waved his hands. She had to force herself to drag her feet along with the pink suitcase.

And here she was now. Eight hours away from home. Eight hours and she would be able to let the tears out. Eight hours and she would be able to cry herself to sleep.

All the journey, all she could think of was how funny the universe worked. They met, they laughed, they felt comfortable in each other's side, yet they found it awkward enough to express their feelings for each other. She knew for sure, that he felt exactly the same way as she did. But there was no way back.

Eight hours and she opened her front door. She was kind of angry at her house which looked exactly like when she left it two weeks ago. My world has turned upside down and my house is still the same! 

She turned on the computer and started writing an IM.

I'm home! It's chilly here. The autumn has already started, apparently. I should've stayed for one more day there. I could use another day under the tropical sun.

Less than one minute and she got a reply.

Oh shame on me! I was just gonna ask you to stay for one more day here, but I thought you had had enough sun.

At that moment, at that very moment, she almost called a cab and went back to the airport and boarded the first plane to his place.

But she did not. She could not. She would not. Enough is enough.
------------------------------------------

Bruised (acoustic) by Jacks Mannequin on Grooveshark


"I've got my things, I'm good to go. You met me at the terminal. Just one more plane ride and it's done."

empty apartment

2 Mar 2012

He couldn't remember how long he had been lying on the floor in the middle of what used to be a living room in that apartment. It was no longer a living room cause... you know, a living room is where all the 'life' occurs, and there was no life in that apartment anymore. It was empty. It was quite. It was abandoned.

He couldn't remember the last time he had a meal. All he knew was that his stomach was empty and he was also thirsty. But he had nothing. He had nothing at all. He knew all he could do was lying on the floor like that. Forever.

But, no. He needed to look around; checked if there was something she left behind before she packed up her books, letters, and things, and walked out the door.

Nothing.

He stared at the door. He recalled her face when she walked away without a word. He recalled everything he wanted to say but left unsaid. She went away and now he was staring at the door. The door that could not be opened because when she left, she took away the key with her. And the spare key... well, he had lost it years ago.

He knew he could not get out of that empty apartment. Ever.

So he decided to lie back on the floor in the middle of the room once called a living room. Alone. Lonely. And miserable.

For what he felt like years, he was just staring at the ceiling. Boys don't cry, he knew that.

Whilst he was busy counting each second, someone knocked on the window. What the hell? He was confused. It was the fifth floor of the building.

He stood up and walked to the window and he opened the blind.

A girl. Smiling.

Hi! I'm here to get you outta there.

How?

Come on and take my hand.

At first, he hesitated.

Come on. We can climb down. Don't be afraid. Just take my hand.

He reached her hand and they climbed down the building; not sure how.

After what he felt like an eternity, he set his feet on the ground. He felt the sunshine on his face. He felt the wind blow.

He looked at her. She was smiling.

Pretty.

-----------------------------------------------------


Empty Apartment by Yellowcard on Grooveshark


"Take you away from that empty apartment..."

i owe you a fall #1

12 Feb 2012

While you're too busy loving someone else
Let me stay here
Trying to solve the puzzles
Making sense of all the riddles

"masih inget gak?"

31 Jan 2012

Masih inget Kakak gak?

Sudah sepuluh menit Laras memandangi pertanyaan itu di layar laptopnya. Kata-kata itu, ‘masih inget gak?’, rasanya kurang cocok untuk dipakai oleh orang itu.

Setelah ragu-ragu selama lima detik, Laras mulai mengetik jawabannya.

Masih, Kak. Ini Kak Budi kan? Yang ketua ekskul basket waktu di SMA dulu? Gak mungkin aku lupa. Sampe detik ini juga aku masih inget sosok Kakak yang botak-jangkung-kurus itu, yang dulu aku lihat tiap hari. Di sekolah, di jalan waktu berangkat & pulang sekolah, di lapangan basket. Di mana-mana.

Aku juga masih inget waktu Kakak ditolak sama Linda & Kakak sedih banget. Waktu itu aku lagi duduk di pinggir lapang & Kakak duduk di sebelah aku. Tiba-tiba Kakak tiduran di pangkuan aku. Aku kaget banget waktu itu, tapi Kakak bilang “Please, Ras. Aku baru ditolak.” Terus Kakak nyanyi lagunya Dewa 19 yang Pupus. “Baru kusadari cintaku bertepuk sebelah tangan.” Kakak gak tau aja waktu itu aku nahan nangis. Perasaan aku juga bertepuk sebelah tangan, Kak. Dan hati aku hancur banget pas ngeliat cowok yang aku suka, yang aku sayang banget, tiduran di pangkuan aku sambil cerita kalo dia lagi sedih gara-gara cewek lain?

Aku masih inget waktu Kakak kecelakaan sepulang latihan basket. Aku inget waktu Kakak ngesms aku & bilang kalo Kakak tabrakan. Aku langsung nangis & terpaksa Dilla ngebonceng aku ke tempat Kakak kecelakaan. Aku inget waktu Kakak bilang kalo Kakak gak apa-apa & aku sebaiknya pulang aja.

Yang aku gak inget adalah kenapa Kakak tiba-tiba berubah sikap ke aku. Aku gak inget salah aku apa, sampe-sampe untuk ngeliat mata aku aja Kakak udah gak mau lagi. Tapi aku inget waktu Kakak dengan sengaja ngelempar bola ke punggung aku. Aku inget waktu Kakak lewat gitu aja tanpa ngelirik aku yang nangis kesakitan. Aku masih inget waktu Kakak ngelempar bola ke aku lagi, tapi kali ini yang Kakak arah adalah kaki. Terus Kakak cuma bilang “Eh, maaf ya?” & pergi.

Aku masih inget rasa sakit yang aku rasain tiap aku liat Kakak di sekolah, di jalan waktu berangkat & pulang sekolah, di lapangan softball, di pikiran aku. Di mimpi aku.

Ya, aku masih inget. Gak mungkin aku lupa.

Laras membaca ulang tulisannya sebanyak tiga kali, lalu dia menghapus dan menggantinya dengan:

Eh, Kak Budi! Apa kabar? :D

Kemudian Laras mengirimnya.

------------------------------------------------------

Note:
Ini tulisan jaman SMA, jadi ABG banget gitu deh. Haha! Saya pengen nulis sesuatu di blog ini, tapi gak ada ide tea. Jadi aja masukin tulisan lama... (Hidup blogger murtad! :p)

menularkan galau (2)

20 Jan 2012



Waktu SMA dulu, saya sama temen-temen punya semacam "markas". Tiap istirahat, kami ke kantin beli mi ayam atau batagor, terus makannya di depan ruang multimedia yang ada di lantai atas dari lab bahasa. Pokoknya mah tiap istirahat, kita yang ngisi. Gak ada pihak lain yang nangkring di situ selain kita.

Pas ujian nasional dan ingar bingar keriweuhannya selesai, saya sama temen-temen jadi jarang ke sekolah. Dan ketika pada suatu hari kami memutuskan untuk ketemu di sekolah, apa yang kemudian kami temukan? Ada adik kelas yang nangkring di "markas" kami!

Kami gak bisa ngapa-ngapain sih... Lha wong itu gedung sekolahan. Ya semua siswa boleh make dong?

Tapi tetep aja sedih. Tempat yang biasanya jadi tempat kita berteduh, tiba-tiba diisi sama orang asing dan kita jadi gak bisa ikut diem di situ gara-gara obrolan dan "inside joke"-nya beda. (Si adik kelas jelas gak akan ngerti kenapa kami ketawa-ketawa sambil teriak "Dor! Dor! Dor! Lalala...")

Dan sekarang perasaan semacam itu terulang. Tapi dalam hal yang berbeda. Saya sedih...

sirik

8 Jan 2012

“Kamu cemburu?”

“Banget.”

“Lho? Kok kamu gak pernah cerita kalo kamu suka sama dia?”

“Dia? Siapa?”

“Ya cowok itu lah... Masa’ ceweknya?”

“Gak kok. Gak suka.”

“Terus kenapa cemburu?”

“Aku cemburu sama hubungan mereka. Kayaknya mereka bahagia banget. Kapan aku kayak mereka?”

“Dih... Itu sih bukan cemburu namanya.”

“Apa dong?”

“Sirik.”

"bolehkah aku memelukmu?"

7 Jan 2012

Aku memandanginya ketika dia menghela nafas panjang.

“Aku sudah tahu,” ujarnya  sambil memandang jauh ke arah matahari yang semakin menghilang di horison.

Aku menelan ludah. “Sejak kapan?”

“Sejak kamu menolak untuk bercerita tentang gadis yang kamu suka.”

Pandangan kami bertemu sesaat. Tapi kemudian dia mengalihkan pandangannya ke rerumputan yang tumbuh di dekat kakinya.

“Kamu selalu menceritakan semuanya padaku,” lanjutnya. “Tapi kamu menolak untuk bercerita tentang gadis itu. Aku tahu aku bisa saja salah. Tapi kemudian aku takut. Takut sekali. Kamu tahu kan apa yang biasanya terjadi pada dua orang sahabat yang terjebak oleh perasaan semacam itu?”

Ia memandangku lagi.

“Mereka menjadi jauh. Aku tidak bisa kehilangan kamu lagi untuk yang kedua kalinya.”

Aku mengangguk pelan. Aku punya sejuta bantahan untuk argumenmu itu. Tapi aku memilih diam.

“Bayangkan,” katanya sambil berjalan mendekati pagar tempat aku bersandar, “apa yang akan terjadi pada kita jika kita memutuskan untuk menyambut dan merayakan hadirnya perasaan itu, kemudian setelah beberapa saat perasaan itu pergi dari kita? Apa kita masih bisa memanggil satu sama lain sebagai sahabat?”

Aku menghela nafas.

“Aku sayang kamu. Kamu tahu itu kan?” tanyanya.

Kupandang wajahnya yang dibingkai rambut yang dicat merah menyala. Tidak begitu cantik, tapi selalu menarik. Selalu unik.

 “Ya,” jawabku singkat.

“Aku pikir itu cukup. Aku sayang kamu, kamu sayang aku. Lalu apa lagi?”

“Aku hanya...” Untuk sesaat, aku ragu-ragu. “Aku pikir kita bisa menjadi... pasangan? Sepasang kekasih yang kemudian menikah?”

Apakah aku berhalusinasi atau memang wajahnya memerah?

Dia kembali memandangi rerumputan. Lalu tanpa mengangkat wajahnya, dia berkata “Kata siapa untuk bisa menikah kita harus jadi sepasang kekasih dulu? Aku tidak keberatan menikahi seorang sahabat kok. Kalau memang jodoh, kenapa tidak?”

Aku tersenyum. “Kita sahabat kan ya?”

Dia mengangkat wajahnya dan balas tersenyum. “Iya.”

“Bolehkah aku memelukmu?”

Masih sambil tersenyum, dia berjalan mendekatiku.

Matahari sudah menghilang, tapi sisa-sisa sinarnya masih ada di kaki langit.

kemudian aku berhenti mencintainya.

4 Jan 2012

manekin
Aku pernah mencintainya. Dulu sekali, ketika senyumnya manis dan tulus. Ketika dia memandangku dengan penuh cinta dan kelembutan. Ketika dia memanggilku dengan panggilan kesayangan.

Kemudian dia mulai berpakaian seperti wanita murahan dengan dalih fashion. Kemudian mulai memakai riasan yang berlebihan. Dia bukan wanita yang dulu kukenal. Dia bahkan bukan wanita lagi. Dia manekin berjalan.

Kemudian aku berhenti mencintainya.